Corat-coret ini saya tulis ketika saya mengalami kondisi tertekan secara finansial dan telah saya publish di jejaring sosial lainnya. Mungkin saja bisa buat cermin diri. Tapi, kalo terasa konyol, lupakan saja.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Sebongkah UMUR…., kutitipkan pada sudut pandangku yang terbias menjadi bayangan dalam cermin. Terlihat agak jauh dan buram. Tidak jelas, cekung atau cembung. Bayangan itu tak lain adalah “aku” saat ini.
Penghuni wilayah alam bawah sadar mulai terbangun. Mencari tau besarnya pembiasan UMURku melalui titik fokus kesuksesan. Mulai saat ini. Ya…., betul, mulai saat ini. Karena memang, baru terasa beberapa putaran menit lalu sebelum tertidur. Sebelumnya, sama sekali tak terpikir. Sedikitpun.
Penggaris busur aku tancapkan di depan dahi. Pandanganku semburat meronta kesegala arah mengisyaratkan begitu luasnya sudut yang telah membangun UMUR. Men-justifikasi orang menjadi apa yang bisa aku lihat secara nyata. Lantas…, segera, aku geser cermin itu keluar dari ruang egoisku.
……..
Hari ini, dan bahkan setiap hari, aku selalu tatap semua orang tepat dipermukaan cermin. Yang tak pernah mati benturannya, sekalipun aku tutup rapat-rapat wilayah ketidakpastiannya.
Bau badanku tidak lagi sangit. Efek ultraviolet dari gugusan sinar matahari seolah hanya mampir beberapa menit. Paling “banter” 1 jam per hari. Itupun ditangkis secara halus oleh kain pembalut disekujur tubuhku. Jaket, celana, sepatu, dan pernak-pernik seragam perjalanan menuju kantor.
Tenagaku tidak lagi hilang tanpa sebab dengan volume kalori yang tinggi. Jauh dari desiran keringat para penjual asongan yang bertopeng melas disepanjang jalan ini.
Diantara mereka, ada yang seUMURku.
Aku bayangkan juga pada para pengemis, tukang becak, dan …..
Alhamdulillah, aku merasa lebih dari mereka.
180 derajat dari itu….
Dia, dia, dan dia, ada diantara gedung-gedung pencakar langit di kursi yang lebih panas. Terhindar dari antrian loket kereta api dan bersahabat dengan pramugari rute regional atau internasional. Berteduh di bawah istana bernilai sekian kali ukuran rumah standart. Tak terhitung sudah berapa kali dan berapa banyak.
Diantara mereka, ada yang seUMURku juga.
Aku merasa, duniaku saat ini masih terlalu lugu dibanding mereka. Sudut yang mengantarkannya ke permukaan cermin, telah membuat sebegitu telitinya menembus dan membias jadi lebih besar dari yang bisa aku capai. Bahkan jauh lebih besar.
Subhanallah, atas apa yang aku rasakan.
……..
Zat pembiasan UMUR yang sedikit terurai, hanya sebuah kenyataan mati suri. Ada kehidupan lain dibalik kesuksesan yang menjadikan aku saat ini.
Hmm…., ternyata, manusia yang seUMURku, ada yang terbias lebih kecil dan ada yang terbias lebih besar dariku.
……..
Pertanyaan menjengkelkan itu datang: “Apakah saat ini aku telah terbias secara wajar?”
Artikel ini telah dilihat sebanyak 85 kali.