Gambar Slamet
Foto di atas adalah foto Pak Slamet, yang lahir tahun 1958 di Yogyakarta, jadi saat ini usianya sekitar 51 tahun. Wajahnya terlihat nampak lebih tua dari usianya bukan tanpa alasan. Lika-liku perjalanan hidupnya sungguh luar biasa. Saya sempat menjadi wartawan dadakan dengan beberapa kali melontarkan pertanyaan kepada Pak Slamet.
Slamet kecil memulai bisnis sewaktu masih muda sekitar usia 20-an tahun. Bisnis dimulai dengan berjualan plastik di daerah Glagah Sari, utara terminal lama jogja. Lika-liku bisnis Slamet kecil yang waktu itu menguntungkan berakhir di tahun 1984. Usahanya bangkrut, dan pada saat itu dia sama sekali tidak memiliki pekerjaan apapun. Pengeluarannya cukup besar untuk kontrak, makan dan pengeluaran lainnya. Akhirnya, uangnya pun habis tanpa ada pemasukan. Dia tidak bisa memperpanjang kontrakan. Mau tidak mau dia harus mengakhiri kontrak rumahnya. Hidupnya pun mulai menggelandang.
Kurang lebih satu bulan, Slamet hidup dengan meminta-minta kepada temannya untuk makan, sementara untuk tidur dia hanya tidur di sembarang tempat. Setiap tidak punya uang, dia ke temannya yang memang cukup memiliki teman banyak. Dia sering diberi uang Rp. 2.000,- hingga Rp. 3.000,-. Lumayan besar untuk tahun tersebut.
Namun akhirnya Slamet berpikir, masak hidup dia hanya menggantungkan belas kasihan teman. Dia pun mulai berjalan ke arah Jl Mangkubumi, sebuah surat kabar ternama ada di sana. Dia mencoba menanyakan pekerjaan apa yang bisa dia peroleh. Apakah masih bisa jualan surat kabar.
Akhirnya, diapun memulai jualan surat kabar. Waktu itu harus dengan modal. Dengan uang Rp. 3.000,- pemberian temannya bisa mengambil 10 eksemplar surat kabar. Tetapi dia butuh waktu satu minggu untuk menghabiskan 10 surat kabar tersebut. Cukup sulit memang buat Slamet untuk memulainya. Tetapi dia berusaha terus dan akhirnya, itu menjadi jalan hidupnya hingga sekarang.
Sekarang, dia dalam sehari bisa menjual banyak surat kabar. Tempat mangkalnya di pasar Beringharjo, berdekatan dengan Malioboro, sebuah tempat yang terkenal sebagai ciri khas kota Jogja. Keuntungannya tiap hari minimal Rp. 20.000,-. dengan uang segitu dia sudah bisa menghidupi keluarganya. Saat ini dia memiliki tiga orang anak dan tiga orang cucu. Dia juga sudah memiliki tempat tinggal sendiri di Jl Glagah Sari. Dengan penghasilan tersebut dia usahakan untuk bisa menghidupi keluarganya karena memang hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menafkahi keluarganya.
Dua anaknya menjadi tukang parkir di RS Bethesda dan barat RS Bethesda, sementara anak yang satunya tinggal di Jakarta bersama keluarganya.
Di saat yang sama, saya bertemu teman dari Pak Slamet yang sedang menjajakan surat kabar di UII sewaktu ada acara wisuda ini. Dia bernama Pak Sugeng. Kedua nama tersebut memiliki makna yang mirip.
Berbeda dengan Pak Slamet, Pak Sugeng ini bekerja menjadi penjaja minuman di UII juga pada saat ada acara wisuda bukan sebagai tujuan utama mencari nafkah, akan tetapi memang mengisi waktu luang daripada tidak bekerja sama sekali.
Pak Sugeng ini sebenarnya telah memiliki penghasilan yang sangat lumayan. Pak Sugeng memiliki beberapa tempat kos yang lokasinya di dekat kampus UGM. Dia berpikir kalah hanya nyantai di rumah ga ada kegiatan rasanya membosankan. Akhirnya Pak Sugeng iseng-iseng saja menjadi penjual minuman.
Selain menjadi penjual minuman, di rumah, Pak Sugeng aktif di kegiatan RT maupun Takmir Masjid di Pogung Rejo. Kebetulan dulu sewaktu saya menjadi mahasiswa di UGM, saya juga sering mampir di masjid tersebut sehingga ketika berbicara lokasi dan sebagainya cukup nyambung.
Artikel ini telah dilihat sebanyak 164 kali.