salam,
"Engkau dilahirkan ibumu dalam keadaan
menangis. Sedangkan manusia di
sekelilingmu tertawa bahagia. Maka
berbuatlah sesuatu untuk satu hari
dimana kematianmu datang, engkau
meninggal dalam keadaan tersenyum
bahagia dan sementara orang lain
menangisi kepergianmu." (Ali bin Abi
hiran kita, wallahu'alam.Semakin besar
kita, aktivitas menagis kita makin
berkurang karena berbagai alasan, bisa
karena kita malu kalau harus menagis
karena sudah besar, atau hal-hal lain
yang membuat kita jarang sekali
menangis.Karena jarangnya kita menangis,
kadang kita jadi lupa pada saat kapan
"seharusnya" kita menangis, kita sering
salah dalam menangisi sesuatu.Misalnya
ketika kita kehilangan barang yang kita
sukai, kita menangis tersedu-sedu,
ketika kita ditinggalkan orang yang kita
cintai, kita menangisnya
berminggu-minggu, ketika kita tidak
mempunyai makanan, kita menangis menahan
lapar, ketika kita merasakan sakit,
kitapun akan menangis, itu wajar dan
manusiawi.Sekarang mari kita ingat-ingat
lagi, pernahkah kita menangis, ketika
kita meninggalkan shalat?Pernahkan kita
menangis ketika kita tidak bisa baca al
qur'an?Pernahkah kita menangis ketika
kita tidak mengerti bacaan al
qur'an?Pernahkah kita menangis ketika
bathin kita merintih lapar karena tak
pernah tersentuh kearifan?Pernahkah kita
menangis ketika hati kita mati, sehingga
kita tidak bisa lagi merasakan keagungan
Allah?Pernahkah kita menangis ketika
hati kita mati, sehingga kita tidak bisa
lagi merasakan derita saudara atau
bahkan orang tuanya?Pernahkah kita
menangis ketika mata kita "buta"?
Sehingga tidak mampu lagi melihat dan
membedakan mana yang hak dan mana yang
bathil?Pernahkah ita menangis ketika
telinga kita menjadi "tuli"? sehingga
kita tidak bisa lagi mendengar nasehat
dan ajaran agama yang disampaikan oleh
ustadz dan guru-guru kita?Menangislah
jika kita memang harus menangis,
menangislah ketika kita alpa dalam
mengingat Allah, Menangislah ketika kita
mengabaikan shalat, menangislah manakala
kita tidak bisa membaca alqur'an apalagi
untuk memahaminya,Menangislah manakala
hati kita tidak merasakan hal apapun
manakala dikiri kanan kita penderitaan
terpampanMenangislah manakala mata kita
tidak lagi melihat dan tidak mampu
membedakan kebenaran, menangislah karena
telinga kita menjadi tuli untuk menerima
nasehat, Menangislah ketika kita tidak
bisa menangis!!Ketika kita tidak bisa
menangis yang "seharusnya", maka sangat
boleh jadi kita menjadi orang yang
dimaksud dalam ayat Allah berikut;74.
Kemudian setelah itu hatimu menjadi
keras seperti batu, bahkan lebih keras
lagi. padahal diantara batu-batu itu
sungguh ada yang mengalir sungai-sungai
dari padanya dan diantaranya sungguh ada
yang terbelah lalu keluarlah mata air
dari padanya dan diantaranya sungguh ada
yang meluncur jatuh, Karena takut kepada
Allah. dan Allah sekali-sekali tidak
lengah dari apa yang kamu kerjakan. (Al
Baqarah:74)46. Maka apakah mereka tidak
berjalan di muka bumi, lalu mereka
mempunyai hati yang dengan itu mereka
dapat memahami atau mempunyai telinga
yang dengan itu mereka dapat mendengar?
Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu
yang buta, tetapi yang buta, ialah hati
yang di dalam dada. (al Hajj:46)
Menangis pada saat yang tepat, seperti
ketika kita menyadari betapa banyak dosa
dan khilaf kita adalah sesuatu yang
sangat dianjurkan, bukan sebaliknya,
kita lebih cenderung akan menangis
manakala kita ditimpa sesuatu tentang
urusan dunia kita. Kelak diakhirat,
semua mata akan menangis, yaitu mereka
yang ketika didunia matanya tidak pernah
menangis kepada Allah untuk memohon
ampun atas segala dosa-dosanya, lalu
mata yang senantiasa liar memandangi
hal-hal yang diharamkan oleh Allah.
Sebaliknya, Sufyan bin Muhammad Ajlan
menerangkan bahwa pada hari kiamat
kelak, ada tiga mata yang tidak
menangis; 1. Mata yang selalu dibuat
menangis kepada Allah Swt 2.Mata yang
selalu terpejam ketika melintasi hal-hal
yang diharamkan oleh Allah 3.Mata yang
selalu dibuat jaga malam ketika berjihad
menegakan agama Allah Swt.wss
Back
Artikel ini telah dilihat sebanyak 304 kali.